Monday, July 6, 2009

4 bulan kandungan istriku, Bali kami bawa kamu!

Nak, saat kami memutuskan untuk pergi ke Bali, ada ketakutan dan ragu yang menghantui... "Januari awal tahun 2009, tak jadi engkau memiliki dua kakak. Perjalanan jauh membuat mereka tak dapat bertahan?".

Satu hari sebelum berangkat, kami sepakat untuk melihat keadaanmu, siapkah kamu menempuh perjalanan menyeberang pulau Jawa ke arah timur Indonesia. Tanggal 1 Juli 2009, pagi hari, Dokter Bambang, memberikan pertimbangan yang cukup melegakan hati. Apalagi saat tampak dirimu dengan panjang 78,7 mm di dalam perut ibumu, sesekali bergerak dan terlihat tenang-tenang saja dalam 4 bulan umurmu.

Sebenarnya jauh dalam hati bapakmu ini, masih ada cemas, namum kusembunyikan dalam-dalam...

.........................................
RABU, 1 JULI 2009
.........................................

Perjalanan kami mulai sekitar jam 07:00 malam. Kupacu kendaraan dengan kecepatan biasa saja, tak lebih dari 80 km/jam. Aku berusaha membuat perjalanan menjadi nyaman untuk semua penumpang, khususnya untuk anakku dan istriku.


PAITON

Tak terasa, sekitar jam 11:00 malam, kelap-kelip lampu Paiton sudah menyambut di depan mata. Diputuskan untuk sejenak saja merenggangkan tubuh yang letih, tentu membuat istriku tampak begitu gembira. Senyumnya seakan tak pernah habis, tetap saja tampak di wajahnya yang bulat. Segelas mie instan pun ia habiskan. Semoga sedikit membuat hati anakku tenang dan obati laparnya juga malam itu.

Setelah menyantap habis satu piring nasi campur, sambil mencicipi kopi hangat bawaan dari rumah, sebatang rokok kubakar sebagai penghilang penat. Sesekali kuelus perut istriku yang semakin membesar karena hadirnya anakku. Sambil bercanda menepis cemas, sesekali pula kuabadikan moment itu. Tetap dalam hati ku panjatkan do'a, semoga anakku baik-baik saja di dalam sana. Uhh, perjalanan harus dilanjutkan, tujuan masih sangat jauh.

Satu per satu tikungan setelah Paiton dilalui. Gelap dan rusaknya jalan di alas Baluran membuat mata harus lebih awas. Tepat di salah satu tikungan tajam menanjak, sudah tampak dari jauh, sebuah truk gandeng besar tertidur, terguling mencium aspal.


.........................................
KAMIS, 2 JULI 2009
.........................................

KETAPANG - GILIMANUK

Sebentar saja, Pelabuhan Ketapang pun sudah tampak menyambut kami. Sekitar 04:30 pagi, hari masih gelap saat kami harus menunggu giliran untuk naik ke feri. Tak bisa juga kupejamkan mata ini walau hampir seharian tak tidur dan mulut selalu menguap. Kupilih turun, berjalan, menikmati suasana hilangkan letih.

Para penjual minuman hangat masih setia membuka lapak sambil sesekali menawarkan. Beberapa petugas pelabuhan sibuk mengatur antrian. Walau sempat juga tampak sebuah kendaraan roda empat, bermerk, berjalan mundur dari jembatan. Sepertinya ada salah hitung muatan untuk masuk feri, lucu juga! Tapi terjadi! Sementara di sudut lain cukup banyak truk-truk pengangkut sayur atau kebutuhan pokok berjajar menunggu giliran. Sesekali angin dari laut datang membawa aroma air garam, menerpa badan cukup kencang, mengingatkanku pada Ambon. Ahh, rindu aku!

06:30 pagi, matahari mulai bergerak naik, kendaraan kami akhirnya juga bergerak merangkak masuk ke dalam mulut feri. Seorang petugas menerima kami dengan mencatat nomor setiap kendaraan sebelum masuk feri sedang petugas lain bertanggung jawab mengatur parkir kendaraan dalam perut feri. Mereka bekerja sangat baik sekali. Lalu saat terompet kapal mulai berbunyi keras sebagai pertanda kapal harus bergerak, seorang petugas lagi santai saja bergerak naik ke geladak lalu menekan sebuah tombol kecil, pintu masuk besar kendaraan bergerak menutup. Di luar sana, seorang petugas lain melepas tambang besar sebagai penambat kapal ke pelabuhan.

Ahh..kapal bergerak juga. Sudah sangat lama tak kurasa naik kapal, jadi lega rasanya kembali berada di atas laut. Perlahan feri meninggalkan Tanah Jawa, meninggalkan Ketapang. Buih-buih ombak pun tercipta di setiap pinggir kiri-kanan feri. Walau kebutuhan keamanan standart telah terpenuhi, sebenarnya tetap ada sedikit prihatin dalam hati melihat keadaan kapal-kapal feri yang notabene kebutuhan utama angkutan antar pulau ini. Hampir di setiap bagian selalu saja lebih banyak bagian yang berkarat.


Setelah sebentar saja berada di ruang penumpang, aku ajak istriku ke atas geladak, mengambil beberapa gambar. Prek, tak malu aku pada yang lain. Senyum istriku tergambar walau ku tahu ia sembunyikan rasa sakit akan perutnya yang sedikit kaku. Atau mungkin, sebagai akibat anakku yang ingin memberikan tanda bahwa ia juga menikmati suasana itu.


Sekitar 45 menit perjalanan menyeberangi selat itu, sementara semakin tampak jelas pulau Bali di depan mata. Pelabuhan Gilimanuk terlihat sibuk, antrian feri tampak menunggu giliran untuk merapat.

Akhirnya, sekitar 07:15 pagi, setelah sekian lama tahun berlalu, ku injak kembali pulau Bali, sebuah tugu "Selamat Datang" di Gilimanuk menyambut. Kami jadikan tempat istirahat, sarapan pagi, sebentar saja.

Ahh, tenang rasanya, ganti supir, aku istirahat. Tak terasa mata semakin berat, tak kuasa ku tahan kantuk...



REST HOME

Hari sudah siang saat masuk kota Denpasar. Setelah sedikit putar-putar, kami menuju rumah kerabat Mas Sony dan Mbak Lun di kawasan Gurbenuran, Renon.

Rumah itu belum selesai semua walau pada dasarnya sudah layak untuk di huni. Dengan tiga lantai, sangat layak rasanya. Hanya saja belum seperti pada kebanyakan rumah, detail-detail khas Bali masih belum lengkap.

Makan siang dan mandi, istirahat kemudian jadi pilihan. Akhirnya, bisa juga badan ini terbaring diatas kasur, di pulau Bali. Ku lihat istriku sepertinya juga merasa sangat bahagia karena dapat istirahat.

Nak, istirahatlah pula kamu sejenak...


LEGIAN-KUTA

Sore menjelang malam, Mas Sony pulang dari kerja di Kantor Gubernur. Setelah semua mandi, perjalanan kami berikutnya menuju Legian, Kuta. Dalam perjalanan, satu pertanyaan yang ku ungkap, yang semenjak masuk Denpasar selalu saja mengganggu pikiranku, "Ada apa dengan masyarakat Bali yang mulai pagi hari tampak sangat sibuk, mobilitasnya sangat tinggi sekali?". Lun menjawab dengan santai, bahwa memang seperti itu adanya, semua orang sibuk menjalankan bisnis apa saja, khususnya yang berhubungan dengan pariwisata.

Legian menyambut kami dengan suasana khasnya. Walau waktu baru menunjukkan jam 06:20 sore, seluruh sisi kiri-kanan dan di setiap sudutnya tampak orang-orang sibuk berjalan kaki berbaur dengan kendaraan yang berjalan pelan kerena macet. Tak hanya bule, orang pribumi pun tak jarang lalu-lalang berjalan kaki dengan santai.

Setelah memarkir kendaraan, kami berjalan menyusuri trotoar Kuta menuju Tugu Bom Bali. Pedis sudah kembali hidup menjadi sebuah club malam, waktu ku lintasi sudah terdengar suara musik bergemuruh. Sementara beberapa meter dari situ, Sari Club masih belum dibangun, hanya dibatasi pagar seng. Satu hal yang jarang diketahui masyarakat ternyata berada di tengah jalan, di bawah kendaraan yang lalu-lalang, terdapat sebuah tanda "bundar", tepat di situlah mobil pembawa bom berada dan akhirnya meledak.

Di sebuah tugu tepat di ujung jalan, sudah banyak orang yang tampak mengambil gambar atau sekedar melihat berbaris-baris nama korban bom. Aku tak menyiakan kesempatan itu, ku ambil beberapa gambar.

Satu yang menjadi catatan dalam kepalaku... "Nak...di sinilah sejarah mencatat bejatnya sebuah keyakinan yang salah kaprah! Nak, ternyata tak sedikit korban darah dari anak pribumi negara ini..."

.........................................
JUMAT, 3 JULI 2009
.........................................

RENON

Pagi menunjukkan pukul 07:30, aku dan istri sudah berada di sebuah tugu yang menjadi bagian "Lapangan Puputan Udayana" di Renon, tepat di depan Kantor Gubernur, dekat saja, hanya sekitar 500 meter dari rumah.

Sepertinya masih baru, jadi bisa dimengerti bila masih ada fasilitas yang belum bekerja semestinya. Tapi secara umum, ia sungguh menakjubkan. Semua elemen khas bali ada di situ, baik pada eksterior maupun interiornya. Pada setengah tower utama bagian dalam, terdapat loby tempat kita bisa melihat seluruh Denpasar, hampir berfungsi seperti Monas-Jakarta.


Yang membuat aku lebih terkesima, saat istriku meminta untuk di ambil gambarnya dengan latar patung di bagian luar monumen, kedua tangan patung tersebut ternyata seperti memberi tanda "peace".

Semoga tak ada lagi bom di Bali...







SANUR

Sekitar jam 09:30 pagi, pantai Sanur menyambut kami. Hari masih pagi tapi parkir sudah begitu padat. Berjalan kaki, santai saja menyusuri trotoar pinggir pantai dengan kios-kios pedagang souvenir di kanan. Sementara beberapa meter di kiri, ombak membelai mencium bibir pantai.

Kami sempatkan mengambil beberapa gambar dan menguji panjaja tato temporary. Te Piet dan istriku lebih banyak santai menikmati suasana sambil beberapa kali bercanda dengan si pembuat tato.

Aku menyusuri pantai, mengelus air laut dan mengambil gambar berlatar "bule-bule setengah bugil" yang terkapar di atas pasir menikmati terik matahari. Prek, selagi ada moment, aku santai saja tak peduli.

Nak, di daerah seperti ini dulu, aku, bapakmu di besarkan... Indah, tentram...entah bagaimana kabarnya sekarang?



SHOPPING

Waktu sudah menunjukkan pukul 10:45 saat salah satu pusat belanja oleh-oleh khas Bali di bilangan Kambingan menyambut kami turun dari kendaraan. Tak lengkap rasanya ke Bali kalau tak belanja, shopping oleh-oleh.

Tempat itu sepertinya masih baru, sekitar dua tahun, menurut seorang petugas. Apa saja ada di situ, mulai dari yang batu-batu alam terkecil hingga lukisan ukuran super besar. Suasana yang asri, seakan dirumah sendiri, itu yang membuatnya menarik hati. Harganya pun relatif murah, mulai dari lima ribu rupiah hingga yang jutaan. Juve, seorang artispun, sepertinya tampak sedang berbelanja di sana.

Nak, tak suka aku belanja... Walau kemarin baru dapat fee seminar yang lumayan, ku coba bisikkan "irit" di telinga istriku. Untuk biaya periksa anak kita...

SEMAWANG

Siang 03:30, pantai Semawang menyambut kami. Tak lama, hanya sebentar setelah parkir, walau pantai sedikit kotor oleh ganggang, rumput laut, aku sudah basah menceburkan diri.

Berenang, menyelam bermain kano. Ku tumpahkan semua rinduku pada laut! Kupuaskan dahagaku akan rindu yang lama terpendam! Walau sedikit takut, istriku ku ajak ke tengah, ke gundukan pasir yang semakin waktu semakin tergenang oleh air pasang.

Sesaat kemudian istriku terlihat sibuk menikmati bakso bersama Te Piet, Bu Rina dan Mas Sony. Sesaat kemudian tampak dari jauh, istriku sibuk bercakap saat jemarinya di belai pelukis kuku. Prek, aku tak perduli dengan rayuan semangkok bahkan bermangkok bakso! Aku tak perduli dengan indahnya lukisan kuku! Aku lebih mencintai laut, kembali ku tenggelamkan diriku pada sejukknya pelukan air.

Nak, cepat lahir...biar dapat ku ajarkan kau menyelam dan hidup menikmati laut!


.........................................
SABTU, 4 JULI 2009
.........................................

TANAH LOT

Saat kami harus kembali, searah pulang ke Tanah Jawa, Tanah Lot jadi tujuan. 08:30 pagi setelah pamit, kendaraan meluncur perlahan meninggalkan Renon. Denpasar dilewati saat jalanan semakin terasa padat. Keluar dari hiruk pikuk kota, tikungan dan sawah menyambut perjalanan kami. Hampir dua jam kemudian, gerbang Tanah Lot menyambut kami.

Mulai pintu masuk, pemeriksaan karcis hingga Pendopo utama, apalagi di kaki Pura, wisatawan padat. Mungkin bersamaan dengan waktu liburan dan tepat di ujung minggu. Kios-kios menghiasi kiri-kanan, sepanjang jalan menuju Pendopo. Beberapa rombongan berbeda asal, dengan identitas yang terlihat dari kaos mereka, tampak juga sangat menikmati pagi itu, kami pun begitu.

Istriku menemani Te Piet di kios atas, sementara aku bergerak turun melintasi Goa Ular ke kaki Pura. Ku sempatkan ikut antri mencicipi air tawar dari pancuran di goa kaki Pura dan mengambil beberapa gambar.

Ingin rasanya menceburkan diri kembali ke laut, tapi sepertinya tak bisa. Walau ombak datang merayuku, karang-karang yang terbentang sepanjang bibir pantai mencegahku. Uhh, sungguh sayang. Sesekali ku belai saja air laut di pinggir karang, semoga dapat kurangi rasa ingin itu.

Setelah hampir dua jam, walau berat di hati ini, Tanah Lot harus kami tinggalkan.


SINGARAJA

Tikungan demi tikungan kami lewati. Sawah hijau terbentang di sisi kanan jalan. Lalu saat perut ini sudah tak tahan melawan lapar, kami putuskan untuk beristirahat. Di belakang sebuah Pura, menghadap tepat ke laut, tikar pun akhirnya di gelar. Sebentar saja, mungkin karena belum makan, anjing-anjing sang pencari ikan menghampiri kami dari pinggir pantai.

Tampak dari jarak cukup jauh, beberapa muda-mudi berlatih menari di sanggar terbuka. Sementara tepat di sebelahnya, dua pekerja sibuk membalik butir-butir berwarna coklat kehitaman. Aroma bau cengkeh mampir di hidung. Kembali hadirkan rindu pada tempat lahirku.

Lamunanku buyar, saat suara istriku terdengar, kami harus meneruskan perjalanan kembali.


GILIMANUK - KETAPANG

Pukul 04:50 sore, suasana pelabuhan Gilimanuk relatif sepi saat kami tiba. Menurut seorang petugas, siang tadi yang sangat padat, khususnya bagi kendaraan yang memasuki pulau Bali. Tak lama, kami pun sudah berada dalam perut feri. Tapi justru kini kami harus menunggu beberapa kendaraan lagi agar feri bisa bergerak. Masuknya satu kendaraan roda empat dan dua kendaraan roda dua, akhirnya membuat feri bergerak.


Selamat tinggal Gilimanuk, selamat tinggal Bali... Entah kapan aku akan kembali? Mungkin setelah anakku lahir, kan ku bawa ia kembali, perkenalkannya pada indahmu...

Di belakang, Gilimanuk melambai. Sementara di depan, Ketapang ucapkan selamat datang. Saat berada di tengah, diantara Bali dan Tanah Jawa, ombak sore itu terasa menghantam lebih kuat. Beberapa penumpang bahkan berteriak senang ketika ombak menghempas feri lebih keras. Air laut bahkan beberapa kali pula masuk menggenangi lantai dasar feri.

Langit mulai gelap saat jam menunjukkan hampir pukul 06:00 sore. Dari jauh, lampu-lampu di Ketapang satu persatu mulai menyala, seperti merayakan kedatangan kami kembali. Tapi ombak seakan tak ingin lepaskan pelukannya. Sepertinya sang nakoda cukup sabar berusaha mencoba menjelaskan bahwa hal itu memang harus terjadi, bahwa kami memang harus merapat.



Dengan berat hati, saat menginjak daratan perlahan, saat kembali menyentuh Tanah Jawa...satu terucap dalam hati... "...semoga, tak lama, ku akan kembali..."

.....................................

Nak, kota Malang sudah sangat sepi saat akhirnya kami dapat merebahkan diri kembali di kamar. Dan, waktu menunjukkan jam 03:00 pagi saat ketakutan dan ragu kembali menghantui, "Bagaimana kabarmu? Sehatkah dirimu di dalam sana?"

Tepat satu minggu sejak pemeriksaan terakhir, tanggal 7 Juli 2009 sekitar pukul 09:17 pagi hari, Dokter Bambang, memperlihatkan keadaanmu yang sangat melegakan hati bapakmu ini. Tampak dirimu saat bergerak menghisap jari-jari mungilmu. Panjangmu pun sudah 92,8 mm. Ahh, sangat melegakan...

Nak, perjalanan ke Bali kemarin membuktikan dirimu perkasa!

No comments: