Friday, August 7, 2009

SELAMAT MERDEKA WS RENDRA


Sedih tengah hari belum lagi habis...
Waktu maut merampas lelaki tua sederhana!
Tanya belum semua berjawab...
Di tengah debu jalan gosip-gosip murahan!
Mata belum selesai berkaca...
Baru saja dia terbenam dalam liang lahat!
Banyak do'a belum habis...
Do'a apa saja atas apa saja tentang Urip!

Malam belum berujung...
Sudah terdengar lagi dentuman keras menghantam negeri!
Mulut menganga belum lagi menutup...
Sudah terdengar lagi isak pertiwi!
Ludah belum lagi habis tertelan...
Sudah datang lagi tanya di kepala!
Kenapa belum lagi selesai riuhnya bising sedih...
Sudah terdengar kepak Sang Merak terbang?

Lembar-lembar Ronggo Warsito...
Belum lagi selesai kau bereskan untuk anak dan cucu...
Lalu mengapa kau tinggal pergi?
Kekar cakarmu terasa baru saja menghujam asa ini...
Mengapa lalu kau lepaskan?
Terompet "merdeka" belum lagi ditiupkan...
Mengapa kau dahulukan?
Terasa siksa sang waktu yang berjalan cepat...
Mengapa kepergianmu lebih cepat lagi?

Secangkir kopi ini belum lagi dingin...
Sekelebat terdengar duka di depanku!
Kepala ini belum lagi sempurna terangkat...
Beban di kepala teramat sangat!
Lalu tanya datang begitu saja...
Ada apa dengan negeri ini?
Ada apa denganmu pertiwi?

Selamat jalan "anjing liar" dari Jogjakarta...
Selamat jalan "pengukir syair" dari Jogjakarta...
Selamat terbang "burung merak" dari Jogjakarta...
Selamat merdeka di sungguh merdekamu!

Malang, 7 Augustus 2009

Wednesday, July 8, 2009

SEBUAH PERCAKAPAN DAN SURAT DARI PRAM, "MAMPUKAH KITA?"

(sebuah cerita tentang hidup dari berbagai sumber)




Di ujung sepenggal wilayah sebuah desa, di sisi selatan hutan belantara, dalam kesendirianku terdengar jangkrik dan anjing malam bertegur sapa. Entah mereka saling mengerti atau sekedar mengisi malam yang terasa sangat panjang.

Tak peduli, sang jangkrik tetap saja bersuara walau tubuh kecilnya tak berarti sedikitpun bagi anjing malam, padahal tadi siang anak-anak petani yang berlarian menindas-remukkan dua kakinya yang kecil. Ia tetap saja bersuara. Entah merintih atau bersyukur walau tak lagi melompat, masih dapat ia merayap. Terasa bebas lepas tanpa ketakutan!

Sedang anjing malam juga tetap bersuara, tak peduli luasnya jagat raya penuh bintang, padahal siang tadi dia kalah bertarung dengan singa hutan. Ia tetap saja melolong walau dua taring kanannya patah dan telinga kirinya sobek berlumur darah. Entah jerit kesakitan atau rasa menang sebab masih bisa ia nikmati malam dengan rembulan jingga yang indah. Terasa bebas tanpa ketakutan!

Tersirat pikiran yang entah datang darimana, tahu-tahu saja lewat di kepala: kebebasan! Mereka bebas! Kebebasan yang mereka raih, mereka gunakan selagi masih sempat. Tanpa ketakutan dan rasa takut apakah besok akan terulang lagi musibah tadi siang.

Kubakar rokok yang tinggal sebatang ketika teringat percakapan panjang dengan Pram beberapa hari lalu di serambi rumahnya....

***

Menurutnya, masa terbaik dari hidup seseorang adalah masa dimana ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri.

Aku ungkapkan, bagaimana dengan sikap orang tua yang sampai detik ini tetap saja mengikat kebebasan kita, segila apapun kita, dari saat masih tergantung pada puting bunda atau bahkan sedewasa apapun menurut kita adanya kita sekarang?

Sejarah tentang seorang gadis Jepara dari desa sebelah, saat masa kolonial dulu, yang diakui sebagai pelopor para wanita oleh kampung-kampung lain hingga saat ini, ternyata hanya seorang manusia yang tanpa daya. Menurut sang gadis yang terjebak oleh rasa prihatin mendalam tersebut, kebebasan akan diperoleh saat datang talak tiga setelah sebelumnya ia dengan berat hati menerima pinangan pilihan sang Ayah. Ia keliru besar karena waktu cepat bergeser sedang kematian terlalu cepat lagi. Kebebasannya kandas! Atau mungkin di alam kematian sana ia betul-betul bebas?

Pram lalu menjawab sambil memangsa pisang goreng,“Kadang kasih sayang orang tua yang paling tidak patut untuk dilawan demi kebebasan itu. Kasih sayang tradisional, yang sampai saat ini masih saja tidak dapat dipungkiri oleh banyak penganutnya, yang jika tidak diarahkan pada masa mendatang yang lebih pelik dan beragam adalah juga kekeliruan yang harus diluruskan dan dibetulkan”.

Tak urung aku bertanya, setelah juga men-caplok ubi rebus, “Mungkinkah itu kasih sayang? Itukah cinta?”

“Bukan! Kasih sayang atau cinta, bukan hanya itu! Di mana pun ada cinta! Bentuknya beragam! Tanpa itu orang tidak dapat menanggung hidup! Cinta adalah sumber segala-galanya!”, jawab Pram.

Dalam dinginnya angin, saat sore menjelang, ku seka wajahku dengan tangan yang mulai membeku, berharap ada sedikit hangat tercipta disana. Nuraniku yang tak mengerti sedikit pun mengoceh bebas, “Tuhan, ajari aku mengenal cinta sebagaimana orang-orang lain mengertikannya”.

Pram balik bertanya tanpa mengharap jawaban,“Tanpa orang tua dan pendirianmu yang kuat  siapa yang dapat meramalkan akan bagaimana bakal jadinya bayi? Jadi Nabi atau bajingan, atau hanya sekedar tambahan isi dunia, polos, tanpa daya apa-apa?”.

Seteguk teh hangat manis membasahi tenggorokanku,“Aahhh... Nikmatnya teh dan pisang goreng ini tak mungkin jalan sendiri ke dalam mulutku. Bukan dari keturunan mana seseorang manusia berasal yang menentukan sukses atau tidak dalam hidupnya. Tetapi pendidikan, lingkungan dan keuletannya. Sukses bukan hadiah dari para dewa, tetapi akibat kerja keras dan belajar”.

Pram balik badan masuk rumah. Sambil sedikit berteriak dia lantang bicara dari dalam kamar,“Pengalaman dan pendidikan dunia maju telah memberikan gambaran tentang bagaimana bangsa yang maju telah dibentuk dan membentuk diri, bagaimana angkatan muda disadarkan pada sebuah rasa nasionalisme dan dirintiskan dengan pengertian dan masa akan datang. Bagaimana ilmu sekolahan dan kenyataan yang sebenar-benarnya dalam kehidupan, bagaimana terjadi pergeseran bentuk nasionalisme itu dan pergaulan karena pengaruh kemajuan ilmu dan industri”.

Tiba-tiba kepala Pram muncul dari jendela,”Pengalaman, pengetahuan, kearifan, terutama semangat hidup untuk maju akan menumbuhkan sebuah pribadi yang kuat. Cara memandang, cara berpikir dan dengan gaya sendiri”.

Ia melanjutkan, “Berbahagialah engkau dan kumpulanmu yang dapat menjadi yang dikehendaki sendiri, lakukan dan berbuat apa saja yang dianggap baik bagi diri sendiri dan bangsamu. Keadaan terus berubah, sesuatu atau apapun itu juga pasti akan berubah. Jaman berganti, kemarin adalah dasar hari ini, hari ini adalah dasar untuk esok dan hari esok menjadi dasar untuk masa depan".

Aku meneguk teh, waktu nada suaranya tinggi,”Perubahan tersebut tentu bukan dengan sikap statis, tidak punya sikap, inisiatif dan gairah hidup, hanya ingin menghabiskan hidup dengan tenang yang beku. Bosan yang menjemukan dan memuakkan. Perubahan harus dengan jiwa yang berkobar-kobar akan cita-cita dan didukung oleh orang-orang dengan jiwa merdeka!".

Aku juga setengah berteriak,”Hati bersih dan kemauan yang baik belumlah mencukupi untuk dapat memulai! Tetapi tetap saja semua membutuhkan permulaan! Dengan memulai berarti setengah pekerjaan sudah selesai.....”.

Ocehanku terputus saat ia duduk kembali dan sudah bersarung. Kaki kanannya naik di kursi, meneguk kopi dan berkata datar,”Sedang tujuan adalah bukan merupakan akhir tetapi menjadi sebuah awal dari perjalanan yang panjang....”.

Obrolan kami terputus saat adzan magrib menggema...

***
Sebuah amanah dari tulisan Pram pada suatu waktu di sebuah surat yang panjang dan selalu mengingatkanku kembali...
“Sampaikan salam pada kumpulanmu bahwa selalu akan dibutuhkan sebuah organisasi dalam bentuk dan nama apapun itu.
Organisasi yang modern untuk persaingan di jaman yang modern. Bukan lagi hidup yang hanya mencari rejeki pribadi semata atau hanya membiakkan diri dengan kawin karena tak ada lagi pilihan.
Jangan jadikan nasib kumpulanmu seperti gadis Jepara. Walau memang dalam satu hal ia benar dengan meninggalkan nilai bahwa: yang menjadi ukuran, seperti apapun usaha, adalah perbuatan sebagai pribadi pada sesama.
Tidak mengenal sesuatu berarti tidak akan tahu apa yang harus diperbuat. Maka, ingin rasanya untuk dapat membangun sebuah organisasi atau kumpulan dengan modal dan dana pribumi seperti yang ada di lingkunganmu. Walaupun pribumi yang pas-pasan hidupnya sekalipun. Bahkan mungkin dari sebagian isi piring mereka modal itu berasal. Organisasi baru, kelahiran baru dengan semangat baru pula!
Bentuk organisasi atau kumpulan dari jaman kolonial, kebangkitan bangsa dan sampai saat ini pun pada hakekatnya adalah sama. Yang ada pada akhirnya adalah "ingin tetap maju atau mundur"!
Jangan diulangi kesalahan pada masa Syarikat Priyayi, Syarikat Dagang Islamiah atau yang kemudian pecah menjadi Syarikat  Dagang Islam. Boedi Oetomo yang terkungkung hanya pada satu golongan priyayi.
Jaman mandegnya demokrasi dengan hanya tiga partai bahkan masa sekarang dengan multi partai yang rancu dan kebablasan pegangan demokrasinya.
Tetap saja yang namanya pribumi tertindas oleh janji atau dengan tipu muslihat dalam pelaksanaannya!
Pada kumpulanmu, bentuk organisasi yang baru, saat kita dihadapkan pada masalah intern organisasi, tidaklah salah sebuah sikap asasi yang menyatakan bahwa dalam organisasi orang bukan melulu harus bisa mendamaikan pertentangan dan menarik sebuah kompromi dengan musyawarah. Dapat dimaklumi juga bahwa untuk hak asasi tersebut kita tidak boleh takut kehilangan cabang, kehilangan anggota bahkan seorang yang telah kau anggap ”saudara” sekalipun.
Tanpa mengurangi rasa hormat, hanya ada pilihan maju atau mundur!
Untuk itu, sudah tentu adalah kini saatnya dilahirkan pemimpin-pemimpin yang berani, mampu dan jujur”.

***

Penat pikiranku, melihat kenyataan yang tidak akan pernah aku sampaikan pada Pram. Kusimpan dalam-dalam. Aku jadi tak bebas! Aku bukan orang bebas!


Terngiang kembali...
“Masa terbaik dari hidup seseorang adalah masa dimana ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri. Sebuah organisasi modern.Pemimpin-pemimpin yang berani, mampu dan jujur. Perubahan dengan sikap statis, tidak punya sikap, inisiatif dan gairah hidup, hanya ingin menghabiskan hidup dengan tenang yang beku adalah hal bosan yang menjemukan dan memuakkan. Perubahan harus dengan jiwa yang berkobar-kobar akan cita-cita dan didukung oleh orang-orang dengan jiwa merdeka”.

Satu yang aku dapat lakukan, melontarkan tanya pada kelompokku, "Apakah kita dapat melakukan yang menurut kita baik, seperti segala kebaikan yang terdapat dalam tulisan panjang Pram?"

Dalam lingkaran malam aku berharap dapat sedikit tidur dan menemukan jawaban atas pertanyaan "mampukah kita?"

Malang, 5 Mei 2012

Tuesday, July 7, 2009

AKU TAK TAHU MALU

(sebuah catatan yang nyaris hilang)



Kakekku seorang pejuang…
Yang kini terbaring dipelukan sang bumi…
Pelor pun masih tertancap di punggungnya…
Saat dia memejamkan mata...

Ayahku pun seorang pensiunan serdadu…
Yang dalam ketermenungan kulihat matanya kadang berkaca…
Mungkin saja berkhayal akan jadi apa anaknya kelak…
Atau entah apa yang kini bisa ia perbuat untuk sang pertiwi?

Di malam sepi saat sang bintang enggan berkedip…
Atau saat rembulan setengah mati…
Bisa apa aku saat datangnya mentari esok?
Aku jadi seorang lelaki pemimpi!

Aku ingin reformasi diri bukan untuk revolusi!
Aku ingin sebuah demokrasi yang tidak anarkis!
Aku ingin jadi anak dari bangsa yang militan tapi tidak radikal!

Lalu kala aku memandang pertama kali wajahmu, terbayang...
Seperti apa ayah bundamu?
Seperti apa mimpimu?
Apa maumu?

Terbesit sedikit sinar cerah…
Saat terdengar suara "Tak ada mengangkang!"
Yang ada hanya suara “Kami Kampungan yang punya Sikap!”

Tapi kenapa itu lalu jadi sayup-sayup?
Kenapa mulutmu kemudian menjadi rapat?
Kenapa begitu berat untukmu bergerak?

Padahal keringat dan darah ini untuk hausmu!
Kering tubuh ini untuk alas kakimu agar tak ada lagi duri merobek telapakmu!
Apa kau tak malu?
Atau memang buta dan tuli?

Di saat tertentu aku merasa tak ada seorang kawan setia…
Diriku hanya sekedar seorang teman, sendiri...
Tapi itu tak jadi soal…
Sebab aku tak tahu malu!
Aku kampungan yang punya sikap!

Aku ingin tetap berbuat sesuatu…
Agar bila saatnya aku menjadi abu…
Aku tidak perlu malu…
Sebab aku telah berbuat sesuatu…
Untuk generasiku...

Malang, 7 Juli 2009

Monday, July 6, 2009

4 bulan kandungan istriku, Bali kami bawa kamu!

Nak, saat kami memutuskan untuk pergi ke Bali, ada ketakutan dan ragu yang menghantui... "Januari awal tahun 2009, tak jadi engkau memiliki dua kakak. Perjalanan jauh membuat mereka tak dapat bertahan?".

Satu hari sebelum berangkat, kami sepakat untuk melihat keadaanmu, siapkah kamu menempuh perjalanan menyeberang pulau Jawa ke arah timur Indonesia. Tanggal 1 Juli 2009, pagi hari, Dokter Bambang, memberikan pertimbangan yang cukup melegakan hati. Apalagi saat tampak dirimu dengan panjang 78,7 mm di dalam perut ibumu, sesekali bergerak dan terlihat tenang-tenang saja dalam 4 bulan umurmu.

Sebenarnya jauh dalam hati bapakmu ini, masih ada cemas, namum kusembunyikan dalam-dalam...

.........................................
RABU, 1 JULI 2009
.........................................

Perjalanan kami mulai sekitar jam 07:00 malam. Kupacu kendaraan dengan kecepatan biasa saja, tak lebih dari 80 km/jam. Aku berusaha membuat perjalanan menjadi nyaman untuk semua penumpang, khususnya untuk anakku dan istriku.


PAITON

Tak terasa, sekitar jam 11:00 malam, kelap-kelip lampu Paiton sudah menyambut di depan mata. Diputuskan untuk sejenak saja merenggangkan tubuh yang letih, tentu membuat istriku tampak begitu gembira. Senyumnya seakan tak pernah habis, tetap saja tampak di wajahnya yang bulat. Segelas mie instan pun ia habiskan. Semoga sedikit membuat hati anakku tenang dan obati laparnya juga malam itu.

Setelah menyantap habis satu piring nasi campur, sambil mencicipi kopi hangat bawaan dari rumah, sebatang rokok kubakar sebagai penghilang penat. Sesekali kuelus perut istriku yang semakin membesar karena hadirnya anakku. Sambil bercanda menepis cemas, sesekali pula kuabadikan moment itu. Tetap dalam hati ku panjatkan do'a, semoga anakku baik-baik saja di dalam sana. Uhh, perjalanan harus dilanjutkan, tujuan masih sangat jauh.

Satu per satu tikungan setelah Paiton dilalui. Gelap dan rusaknya jalan di alas Baluran membuat mata harus lebih awas. Tepat di salah satu tikungan tajam menanjak, sudah tampak dari jauh, sebuah truk gandeng besar tertidur, terguling mencium aspal.


.........................................
KAMIS, 2 JULI 2009
.........................................

KETAPANG - GILIMANUK

Sebentar saja, Pelabuhan Ketapang pun sudah tampak menyambut kami. Sekitar 04:30 pagi, hari masih gelap saat kami harus menunggu giliran untuk naik ke feri. Tak bisa juga kupejamkan mata ini walau hampir seharian tak tidur dan mulut selalu menguap. Kupilih turun, berjalan, menikmati suasana hilangkan letih.

Para penjual minuman hangat masih setia membuka lapak sambil sesekali menawarkan. Beberapa petugas pelabuhan sibuk mengatur antrian. Walau sempat juga tampak sebuah kendaraan roda empat, bermerk, berjalan mundur dari jembatan. Sepertinya ada salah hitung muatan untuk masuk feri, lucu juga! Tapi terjadi! Sementara di sudut lain cukup banyak truk-truk pengangkut sayur atau kebutuhan pokok berjajar menunggu giliran. Sesekali angin dari laut datang membawa aroma air garam, menerpa badan cukup kencang, mengingatkanku pada Ambon. Ahh, rindu aku!

06:30 pagi, matahari mulai bergerak naik, kendaraan kami akhirnya juga bergerak merangkak masuk ke dalam mulut feri. Seorang petugas menerima kami dengan mencatat nomor setiap kendaraan sebelum masuk feri sedang petugas lain bertanggung jawab mengatur parkir kendaraan dalam perut feri. Mereka bekerja sangat baik sekali. Lalu saat terompet kapal mulai berbunyi keras sebagai pertanda kapal harus bergerak, seorang petugas lagi santai saja bergerak naik ke geladak lalu menekan sebuah tombol kecil, pintu masuk besar kendaraan bergerak menutup. Di luar sana, seorang petugas lain melepas tambang besar sebagai penambat kapal ke pelabuhan.

Ahh..kapal bergerak juga. Sudah sangat lama tak kurasa naik kapal, jadi lega rasanya kembali berada di atas laut. Perlahan feri meninggalkan Tanah Jawa, meninggalkan Ketapang. Buih-buih ombak pun tercipta di setiap pinggir kiri-kanan feri. Walau kebutuhan keamanan standart telah terpenuhi, sebenarnya tetap ada sedikit prihatin dalam hati melihat keadaan kapal-kapal feri yang notabene kebutuhan utama angkutan antar pulau ini. Hampir di setiap bagian selalu saja lebih banyak bagian yang berkarat.


Setelah sebentar saja berada di ruang penumpang, aku ajak istriku ke atas geladak, mengambil beberapa gambar. Prek, tak malu aku pada yang lain. Senyum istriku tergambar walau ku tahu ia sembunyikan rasa sakit akan perutnya yang sedikit kaku. Atau mungkin, sebagai akibat anakku yang ingin memberikan tanda bahwa ia juga menikmati suasana itu.


Sekitar 45 menit perjalanan menyeberangi selat itu, sementara semakin tampak jelas pulau Bali di depan mata. Pelabuhan Gilimanuk terlihat sibuk, antrian feri tampak menunggu giliran untuk merapat.

Akhirnya, sekitar 07:15 pagi, setelah sekian lama tahun berlalu, ku injak kembali pulau Bali, sebuah tugu "Selamat Datang" di Gilimanuk menyambut. Kami jadikan tempat istirahat, sarapan pagi, sebentar saja.

Ahh, tenang rasanya, ganti supir, aku istirahat. Tak terasa mata semakin berat, tak kuasa ku tahan kantuk...



REST HOME

Hari sudah siang saat masuk kota Denpasar. Setelah sedikit putar-putar, kami menuju rumah kerabat Mas Sony dan Mbak Lun di kawasan Gurbenuran, Renon.

Rumah itu belum selesai semua walau pada dasarnya sudah layak untuk di huni. Dengan tiga lantai, sangat layak rasanya. Hanya saja belum seperti pada kebanyakan rumah, detail-detail khas Bali masih belum lengkap.

Makan siang dan mandi, istirahat kemudian jadi pilihan. Akhirnya, bisa juga badan ini terbaring diatas kasur, di pulau Bali. Ku lihat istriku sepertinya juga merasa sangat bahagia karena dapat istirahat.

Nak, istirahatlah pula kamu sejenak...


LEGIAN-KUTA

Sore menjelang malam, Mas Sony pulang dari kerja di Kantor Gubernur. Setelah semua mandi, perjalanan kami berikutnya menuju Legian, Kuta. Dalam perjalanan, satu pertanyaan yang ku ungkap, yang semenjak masuk Denpasar selalu saja mengganggu pikiranku, "Ada apa dengan masyarakat Bali yang mulai pagi hari tampak sangat sibuk, mobilitasnya sangat tinggi sekali?". Lun menjawab dengan santai, bahwa memang seperti itu adanya, semua orang sibuk menjalankan bisnis apa saja, khususnya yang berhubungan dengan pariwisata.

Legian menyambut kami dengan suasana khasnya. Walau waktu baru menunjukkan jam 06:20 sore, seluruh sisi kiri-kanan dan di setiap sudutnya tampak orang-orang sibuk berjalan kaki berbaur dengan kendaraan yang berjalan pelan kerena macet. Tak hanya bule, orang pribumi pun tak jarang lalu-lalang berjalan kaki dengan santai.

Setelah memarkir kendaraan, kami berjalan menyusuri trotoar Kuta menuju Tugu Bom Bali. Pedis sudah kembali hidup menjadi sebuah club malam, waktu ku lintasi sudah terdengar suara musik bergemuruh. Sementara beberapa meter dari situ, Sari Club masih belum dibangun, hanya dibatasi pagar seng. Satu hal yang jarang diketahui masyarakat ternyata berada di tengah jalan, di bawah kendaraan yang lalu-lalang, terdapat sebuah tanda "bundar", tepat di situlah mobil pembawa bom berada dan akhirnya meledak.

Di sebuah tugu tepat di ujung jalan, sudah banyak orang yang tampak mengambil gambar atau sekedar melihat berbaris-baris nama korban bom. Aku tak menyiakan kesempatan itu, ku ambil beberapa gambar.

Satu yang menjadi catatan dalam kepalaku... "Nak...di sinilah sejarah mencatat bejatnya sebuah keyakinan yang salah kaprah! Nak, ternyata tak sedikit korban darah dari anak pribumi negara ini..."

.........................................
JUMAT, 3 JULI 2009
.........................................

RENON

Pagi menunjukkan pukul 07:30, aku dan istri sudah berada di sebuah tugu yang menjadi bagian "Lapangan Puputan Udayana" di Renon, tepat di depan Kantor Gubernur, dekat saja, hanya sekitar 500 meter dari rumah.

Sepertinya masih baru, jadi bisa dimengerti bila masih ada fasilitas yang belum bekerja semestinya. Tapi secara umum, ia sungguh menakjubkan. Semua elemen khas bali ada di situ, baik pada eksterior maupun interiornya. Pada setengah tower utama bagian dalam, terdapat loby tempat kita bisa melihat seluruh Denpasar, hampir berfungsi seperti Monas-Jakarta.


Yang membuat aku lebih terkesima, saat istriku meminta untuk di ambil gambarnya dengan latar patung di bagian luar monumen, kedua tangan patung tersebut ternyata seperti memberi tanda "peace".

Semoga tak ada lagi bom di Bali...







SANUR

Sekitar jam 09:30 pagi, pantai Sanur menyambut kami. Hari masih pagi tapi parkir sudah begitu padat. Berjalan kaki, santai saja menyusuri trotoar pinggir pantai dengan kios-kios pedagang souvenir di kanan. Sementara beberapa meter di kiri, ombak membelai mencium bibir pantai.

Kami sempatkan mengambil beberapa gambar dan menguji panjaja tato temporary. Te Piet dan istriku lebih banyak santai menikmati suasana sambil beberapa kali bercanda dengan si pembuat tato.

Aku menyusuri pantai, mengelus air laut dan mengambil gambar berlatar "bule-bule setengah bugil" yang terkapar di atas pasir menikmati terik matahari. Prek, selagi ada moment, aku santai saja tak peduli.

Nak, di daerah seperti ini dulu, aku, bapakmu di besarkan... Indah, tentram...entah bagaimana kabarnya sekarang?



SHOPPING

Waktu sudah menunjukkan pukul 10:45 saat salah satu pusat belanja oleh-oleh khas Bali di bilangan Kambingan menyambut kami turun dari kendaraan. Tak lengkap rasanya ke Bali kalau tak belanja, shopping oleh-oleh.

Tempat itu sepertinya masih baru, sekitar dua tahun, menurut seorang petugas. Apa saja ada di situ, mulai dari yang batu-batu alam terkecil hingga lukisan ukuran super besar. Suasana yang asri, seakan dirumah sendiri, itu yang membuatnya menarik hati. Harganya pun relatif murah, mulai dari lima ribu rupiah hingga yang jutaan. Juve, seorang artispun, sepertinya tampak sedang berbelanja di sana.

Nak, tak suka aku belanja... Walau kemarin baru dapat fee seminar yang lumayan, ku coba bisikkan "irit" di telinga istriku. Untuk biaya periksa anak kita...

SEMAWANG

Siang 03:30, pantai Semawang menyambut kami. Tak lama, hanya sebentar setelah parkir, walau pantai sedikit kotor oleh ganggang, rumput laut, aku sudah basah menceburkan diri.

Berenang, menyelam bermain kano. Ku tumpahkan semua rinduku pada laut! Kupuaskan dahagaku akan rindu yang lama terpendam! Walau sedikit takut, istriku ku ajak ke tengah, ke gundukan pasir yang semakin waktu semakin tergenang oleh air pasang.

Sesaat kemudian istriku terlihat sibuk menikmati bakso bersama Te Piet, Bu Rina dan Mas Sony. Sesaat kemudian tampak dari jauh, istriku sibuk bercakap saat jemarinya di belai pelukis kuku. Prek, aku tak perduli dengan rayuan semangkok bahkan bermangkok bakso! Aku tak perduli dengan indahnya lukisan kuku! Aku lebih mencintai laut, kembali ku tenggelamkan diriku pada sejukknya pelukan air.

Nak, cepat lahir...biar dapat ku ajarkan kau menyelam dan hidup menikmati laut!


.........................................
SABTU, 4 JULI 2009
.........................................

TANAH LOT

Saat kami harus kembali, searah pulang ke Tanah Jawa, Tanah Lot jadi tujuan. 08:30 pagi setelah pamit, kendaraan meluncur perlahan meninggalkan Renon. Denpasar dilewati saat jalanan semakin terasa padat. Keluar dari hiruk pikuk kota, tikungan dan sawah menyambut perjalanan kami. Hampir dua jam kemudian, gerbang Tanah Lot menyambut kami.

Mulai pintu masuk, pemeriksaan karcis hingga Pendopo utama, apalagi di kaki Pura, wisatawan padat. Mungkin bersamaan dengan waktu liburan dan tepat di ujung minggu. Kios-kios menghiasi kiri-kanan, sepanjang jalan menuju Pendopo. Beberapa rombongan berbeda asal, dengan identitas yang terlihat dari kaos mereka, tampak juga sangat menikmati pagi itu, kami pun begitu.

Istriku menemani Te Piet di kios atas, sementara aku bergerak turun melintasi Goa Ular ke kaki Pura. Ku sempatkan ikut antri mencicipi air tawar dari pancuran di goa kaki Pura dan mengambil beberapa gambar.

Ingin rasanya menceburkan diri kembali ke laut, tapi sepertinya tak bisa. Walau ombak datang merayuku, karang-karang yang terbentang sepanjang bibir pantai mencegahku. Uhh, sungguh sayang. Sesekali ku belai saja air laut di pinggir karang, semoga dapat kurangi rasa ingin itu.

Setelah hampir dua jam, walau berat di hati ini, Tanah Lot harus kami tinggalkan.


SINGARAJA

Tikungan demi tikungan kami lewati. Sawah hijau terbentang di sisi kanan jalan. Lalu saat perut ini sudah tak tahan melawan lapar, kami putuskan untuk beristirahat. Di belakang sebuah Pura, menghadap tepat ke laut, tikar pun akhirnya di gelar. Sebentar saja, mungkin karena belum makan, anjing-anjing sang pencari ikan menghampiri kami dari pinggir pantai.

Tampak dari jarak cukup jauh, beberapa muda-mudi berlatih menari di sanggar terbuka. Sementara tepat di sebelahnya, dua pekerja sibuk membalik butir-butir berwarna coklat kehitaman. Aroma bau cengkeh mampir di hidung. Kembali hadirkan rindu pada tempat lahirku.

Lamunanku buyar, saat suara istriku terdengar, kami harus meneruskan perjalanan kembali.


GILIMANUK - KETAPANG

Pukul 04:50 sore, suasana pelabuhan Gilimanuk relatif sepi saat kami tiba. Menurut seorang petugas, siang tadi yang sangat padat, khususnya bagi kendaraan yang memasuki pulau Bali. Tak lama, kami pun sudah berada dalam perut feri. Tapi justru kini kami harus menunggu beberapa kendaraan lagi agar feri bisa bergerak. Masuknya satu kendaraan roda empat dan dua kendaraan roda dua, akhirnya membuat feri bergerak.


Selamat tinggal Gilimanuk, selamat tinggal Bali... Entah kapan aku akan kembali? Mungkin setelah anakku lahir, kan ku bawa ia kembali, perkenalkannya pada indahmu...

Di belakang, Gilimanuk melambai. Sementara di depan, Ketapang ucapkan selamat datang. Saat berada di tengah, diantara Bali dan Tanah Jawa, ombak sore itu terasa menghantam lebih kuat. Beberapa penumpang bahkan berteriak senang ketika ombak menghempas feri lebih keras. Air laut bahkan beberapa kali pula masuk menggenangi lantai dasar feri.

Langit mulai gelap saat jam menunjukkan hampir pukul 06:00 sore. Dari jauh, lampu-lampu di Ketapang satu persatu mulai menyala, seperti merayakan kedatangan kami kembali. Tapi ombak seakan tak ingin lepaskan pelukannya. Sepertinya sang nakoda cukup sabar berusaha mencoba menjelaskan bahwa hal itu memang harus terjadi, bahwa kami memang harus merapat.



Dengan berat hati, saat menginjak daratan perlahan, saat kembali menyentuh Tanah Jawa...satu terucap dalam hati... "...semoga, tak lama, ku akan kembali..."

.....................................

Nak, kota Malang sudah sangat sepi saat akhirnya kami dapat merebahkan diri kembali di kamar. Dan, waktu menunjukkan jam 03:00 pagi saat ketakutan dan ragu kembali menghantui, "Bagaimana kabarmu? Sehatkah dirimu di dalam sana?"

Tepat satu minggu sejak pemeriksaan terakhir, tanggal 7 Juli 2009 sekitar pukul 09:17 pagi hari, Dokter Bambang, memperlihatkan keadaanmu yang sangat melegakan hati bapakmu ini. Tampak dirimu saat bergerak menghisap jari-jari mungilmu. Panjangmu pun sudah 92,8 mm. Ahh, sangat melegakan...

Nak, perjalanan ke Bali kemarin membuktikan dirimu perkasa!